KELELAWAR
Silau oleh sinar lampu lalu lintas,
Aku menunduk memandang sepatuku,
Aku kentayangan bagai kelelawar,
Tidak gembira,
tidak sedih,
terapung dalam waktu.
Nah,
Aku melihatmu di setiap ujung jalan,
Sungguh tidak menyangka,
begitu penuh
kamu mengisi buku alamat batimku.
Sekarang
Aku kembali berjalan.
Hmmm...
Apakah Aku akan menelpon teman?
Apakah Aku akan makan udang gapit di restoran?
Terus sebel terhadap cendekiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial
dipoles gincu menjadi metafisika.
Sikap jiwa dianggap maya dipanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.
Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.
Hmmm...
Aku
akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Kesini, Mah. Masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup
menjadi kamu menjadi harapan.