Kembali,
800 kilo aku berlari,
dan aku tetap melihat wajahmu.
Wajahmu adalah wajah terhina yang diingkari keadilan.
Aku berlari ke timur,
ke kota yang antik,
800 kilo dari kamu,
karena bimbang menempuh bimbang.
Sebagai anjing aku termangu di samping piano,
mencari masa lalu,
karena gamang akan masa yang datang.
Wahai wajah yang terhina,
wajah tanpa alamat surat,
aku akan kembali kepadamu,
karena kamu adalah masa kini yang harus aku hadapi,
dan masa depan adalah masa kini yang dihayati.
800 kilo akan ku tempuh untuk berendeng bersamamu,
800 kilo akanku kebut
untuk membaca kemarau bersamamu.