Di tanah yang suber kami berdiri
Menanam harap di ladang sendiri
Negeri yang katanya kaya raya
Tapi kami lapar di tengah pesta
Mereka bilang semua baik-baik saja Tapi kami tahu itu hanya kata
Gedung menjulang, rakyat menunduk
Pelu di tanah tak pernah terhitung
Di pasar ibu menawar harapan
Uang receh jadi perjuangan
Petani menatap sawah yang kering
Banin tersisa hanya angin
Kami bekerja
tanpa henti Tapi hidup tetap begini
Janji manis jadi abu
Kami diam tapi kami tahu
Dengarkan kami suara dari perut negeri
Jerit yang tulus tak bisa dibeli
Kami tak minta istana berdiri
Hanya ingin hidup yang manusiawi Wahai penguasa,
buka matamu
Anak
muda melangkah kelisah Ijazah di tangan,
mimpi tak arah
Di kota terang mereka tersesat Di desa gelap harapan terikat
Yang kaya tertawa di ruang megah Yang miskin berdoa di tanah basah
Negeri ini terus berbicara Tapi tak pernah benar-benar mendengar kita
Kami bukan angkat dalam berita
Kami
manusia yang punya cita
Kami tak marah,
kami terluka Janji indah kini hanya luka
Bila adil hanya untuk yang punya
Di mana
arti kata merdeka
Kami tak ingin perang dan benci Kami hanya ingin hak kami kembali
Kau bilang kami malas,
padahal kami kerja sampai batas Kau bilang semua baik-baik saja,
tapi kau tak lihat kami berjuang tanpa daya
Kami diam bukan takut,
kami diam karena sabar sudah surut Bila suara kami kau bungkam,
jangan salahkan kami bila gelap datang
Dengarkan kami suara dari perut negeri,
jurid ini lahir dari tanah kami
Kami tak minta kuasa dan tahta,
hanya hidup yang layak dan merdeka
Wahai pemimpin, lihat sekeliling
Rakyatmu menahan lapar dan hening
Negeri ini bukan milik segelintir,
tapi milik mereka yang masih berpelu getih
Bila suatu hari kami tak bersuara
Bukan menyerah,
hanyalah menjaga
Itulah kami,
wahai negeri Kami yang diam tapi tetap berdiri
Dengarkan kami suara dari perut negeri Kami masih disini menanti
janji ditepati
Tak perlu istana,
tak perlu puja
Cukup hidup dengan cinta dan asa