* Surabaya
Halo, senar-senar aku
Oke oke
Perutku, perutku, perutku, perutku
Bagi ku sinar mentari tak seindah matamu
Untuk ku lulusan angin
tak semulus lenganmu
Tak peduli omongan temanku
Tak peduli resiko untukku
Aku nak sil kamu kau jadi gadisku
Malam Minggu pertama aku piket
Dengan sisa uang disaku hampir lengket
Dengan tiga batang jisansu
Ku simpan disaku belujinku
Kikerseloaan menambah angkertampangku
Ku
pilih duduk disudut
agak remang
Ku tunggu keluar sang putri Aryo Penangsang
Pikiran melayang yang bukan-bukan
Andekanku dan aku berpacaran
Kalau cinta melekat
Tai kucing rasa coklat
Tapi apalah curi yang keluar
Adalah bapaknya
Dengan muka ditekuk persis kaya onta
Dengan garang ia berkata
Gadisku tak ada dirumah
Sambil ngedumel
Ku berkata dalam hati
Bangsat!