Kaki tetap berjalan meski hidup dibilang lebih tak berguna.
Kadang-kadang kurang sarapan pagi karena harus jemput bencana.
Sudah-sudalah mending aku ulangi siklus yang sama.
Buat apa meski harus manting tulang yang penting bisa bangun istana.
Untuk kesekian kalinya aku harus ulangi rencana.
Karena memang butuh tenaga ekstra untuk bangun lagi stamina.
Selalu ada rencana, sepertinya ini sempurna.
Terbawa suasana ternyata hanya terpesona.
What is the give it up?
Ku tak pernah untuk tidur lelap.
Walau dipaksa bersiap untuk buat dapur harus berasap.
Tiap-tiap pagi ku paksa untuk tak berharap.
Ku punya cara cuk bersikap gelap lenyap harus kugarap.
Dunia ku begitu saja dan mereka terbang kemana-mana.
Kata orangku bukan siapa-siapa ya sudahlah memang itu kenyataannya.
Berde-berdebah air mata dan darah tak terasa.
Hari-hariku semuanya biasa menyesali hidup yang terlalu sempurna.
Lini lirik seribu frasa kecewa.
Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh, bodoh.
Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh, bodoh, bodoh.
Mataku berat, tidur lagi.
Bangun pagi, eh ini masih terlalu pagi.
Mending aku berpuisi dan menjual untuk puni-puni.
Maman mandi pagi sebatas seruput kopi.
Ini delusi, ini delusi, ini delusi,
ini delusi.
Banyak yang mensibir mereka itu siapa?
Hidupku begini saja tunggu saatnya waktunya.
Demit orang dulit, setan orang doyan.
Kakek yang geluduk kurang udan.
Kakek ku kudung walulang macan.
Nabok nyilih tangan.
Kesandung yang rata, kebengkus yang tawang.